Rabu, 03 September 2014

Akhir dari Sebuah Penantian


Akhir dari Sebuah Penantian

inspirated by : Shinta Naomi JKT48

Pagi ini cerah, hangat mentari yang bersinar dan sejuk embun di pagi itu membuat semangat untuk menuntut ilmu di salah satu sekolah di Colomadu semakin bertambah. Kupercepat kayuhanku. Seusai sekolah, ada ekstrakulikuler basket dan akupun mengikutinya. Masih belum beranjak dari tempat dudukku. Dari arah belakang terdengar suara yang memanggillku lembut.
“Radiit, tunggu !”
Aku pun melihat ke belakang  ”Kamu Di, ada apa kok sampe tergesa-gesa?” Tanyaku penasaran
“Emmmm ada yang mau kenalan sama kamu nih !”
“Tapi Di, udah mau mulai ekskul basketnya nih”
“Telat dikit kan ngga papa”
Aku tidak menjawabnya. Aku bergegas pergi menuju lapangan. Aku simpan kata-kata Ardi tapi aku tidak memikirkannya disaat aku sedang mengikuti basket.
Hari ini aku sengaja berangkat pagi sekitar pukul 6. Aku ingin menikmati udara pagi yang sejuk. Sewaktu istirahat aku ingat kata-kata Ardi kemarin siang. Siapa dia? Anak mana? Anaknya cantik apa engga? Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di otakku. Hingga aku tak sadar jika aku sedang melamunkannya.
“Heyhey kamu lagi mikirin siapa sih?” Tanya Baby yang membuyarkan lamunanku.
“Ha? Aku ngga mikirin apa-apa tuh?”
“Kok ngelamun sih? Aaa masih keinget sama kata-kata Ardi kemaren yaa?
“Eh apaan sih, mentang-mentang pacarnya Ardi trus kalian ngejek gitu, aah ngga asyik”
“Hehe Cuma bercanda kok”
Tiba-tiba Ardi datang menemuiku. Entah apalagi yang akan ia sampaikan kembali. Aku sendiri tidak berharap jika kata-kata itu lagi yang akan ia sampaikan.
“Dit, ikut yuk, de’e mau ketemu kamu, tuh udah ditunggu di kantin” ajak Ardi
“Aaah ngga ah, biarin aja dia yg samperin”
“Kok gitu? Yaudah deh ini kesempatan loh, kok malah kamu sia-siain” ucapan Ardi didengar oleh Nabillah, yang juga saudara Ardi.
“Eh eh, ada apaan nih? Keliatannya seru! Ada apasih di, kok ngga bilang-bilang?”
“Gak ada apa-apa. Udah nanti aku ceritain”
Bel masuk kelas pun berbunyi, aku segera masuk kelas. Dan aku mengikuti pelajaran yang berlangsung hingga usai. Pulang sekolah biasanya aku naik sepeda, jarak rumah sedikit jauh.
“Ciyeee Radit” goda Nabillah
“Ada apasih?” tanyaku penasaran.
“Tuh orang yang di depan gerbang pake tas biru ada corak hitam, itu orang yang mau ketemu kamu.”
“Ha? Siapa dia? Namanya siapa?”
“Dia Shinta Naomi, anaknya pendiem banget, dia sahabat karibArdi dan Baby”
Tanpa kata-kata apapun aku bergegas pulang. Dalam perjalananku, aku memfikirkan semua hal yang Nabillah katakan tadi. Yah Shinta, aku masih tidak menyangka kenapa dia mau bertemu, kenapa harus lewat temannya? Ah mungkin dia malu. Yaudahlah.
*Keesokan harinya*
Hari ini mulai muncul kabar buruk, banyak yang menyangka bahwa aku ini pacarnya Shinta, padahal bukan sama sekali. Aku kenal sama dia saja baru kemarin. Di sela-sela pelajaran aku gunakan untuk menulis kata-kata. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta sama Shinta.
“Ahhh, kenal langsung aja belum kayaknya mustahil deh”  kata itu selalu muncul di benakku.
Saat jam istirahat, aku selalu melewati kelasnya. Aku selalu melihat tingkah lakunya, yang terkadang membuatku tersenyum-tersenyum sendiri. Oh mungkin ini kah cinta? Aku pernah merasakannya tetapi aku tak ingin merasakannya lagi untuk saat ini.
Setelah kita kenal begitu lama, aku mengenal dia dengan ramah, baik walaupun diantara kita tak pernah ada satu perkataan. Tiba-tiba semua perasaanku menjelma, berubah entahlah seperti apa isi otakku. Aku menyukainya, aku menyayanginya. Aku yakin dia begitu, tetapi aku tidak pernah percaya itu, aku tidak pernah percaya bila ia menyukaiku juga, aku hanya berharap banyak padanya.
Hari ini ekstra pramuka sebenarnya, aku samaShinta mau bicara tapi dia tetap tidak mau. Dia tetap tak membuka kesempatan untuk perasaan kita. Tapi aku masih yakin dia benar-benar mencintaiku. Sore itu aku hanya pulang dengan semua mimpiku yang telah pupus. Aku tak membawa secuil harapan lagi untuk rasaku ini.
Malemnya aku menulis surat cinta khusus untuk Shinta. Aku harap ada sedikit respon darinya, dan respon itu tidak membuat kupatah hati dan patah semangat. Aku tahu, Tuhan pasti mengerti disetiap mimpi dan harapanku. Setelah selesai, aku pun memasukkanya ke dalam amplop berwarna pink karena akutahu ia suka warna pink dan aku pun langsung pergi tidur.
“Radit, ayo bangun, udah jam setengah lima tuh. Buruan bangun, udah ditunggu ayah tuh buat sholat shubuh berjamaah” kata Ibuku membangunkanku
Paginya, aku bangun pukul 04.30 dan langsung mengambil air wudhlu untuk sholat shubuh bersama keluargaku. Setelah sholat aku pun langsung pergi untuk jogging, sendirian. Pukul 6 tepat aku sudah pulang dan segera mandi untuk bersiap ke sekolah.
“Radit, sarapan dulu, nih udah ibu buatin nasi goring kesukaan kamu” kata ibuku
“Iya bu” jawabku sambil mempersiapkan barang-barang untuksekolah
Lalu, aku langsung turun untuk sarapan.
“ayah mana bu? Kok ngga ikut sarapan?” tanyaku
“oooo ayahmu baru aja pergi ke kantor” jawab ibuku
“Loh kok tumben berangkatnya pagi sekali?” tanyaku
“Kan ayahmu beserta staff kantor ada tugas ke Jakarta selama 4 hari” jawab ibuku
Setelah sarapan aku pun langsung berangkat ke sekolah. Setelah sampai di sekolahan, aku kasih surat itu langsung ke dia. Aku tak pernah mengira hal buruk apapun akan menimpaku setelah surat itu kau baca. Tiba-tiba Imma dating mengetuk pintu kelasku ketika kelasku sedang pelajaran. Dia meminta ijin dahulu, lalu memanggilku untuk menemuinya. Aku sedikit bingung, langsung saja aku langsung menurut.
“Nih surat dari Shinta” kata Imma sambil memberikan surat dari Shinta.
“Apa ini? Jawaban suratku tadi pagi ya?”
“Iyaa, baca aja dulu, dia bilang minta maaf kalo udah nyakitin perasaan kamu, dia ngga bermaksud kayak gitu, yaudah baca aja”
“Iyaa makasih yaa udah nganterin suratnya, aku titip salam sama kissbye buat dia”
Di kelas akupun sudah tak sabar menanti bel istirahat untuk membuka surat ini. Lama sekali aku menunggu, dan seketika itu bel istirahat pun berbunyi. Aku langsung membuka dan membaca surat ini.
Seketika itu pun aku menangis, air mata ini sudah tidak dapat aku tahan lagi. Tetes demi tetes mulai membasahi wajahku, lalu ku hapus lagi begitu pun seterusnya.
“Ada apasih Dit?” Tanya Baby
“Di.. dia.. diaa udah menjawab semuanya” kataku terbata-bata
“Jawab apa? Bukannya diantara kalian itu tidak ada apa-apa?
“Dia ngga suka aku By, aku sih fine tapi kenapa yang nganter suratnya harus Imma? Dulu pas kamu sama Ardi putus, Imma juga kan yang nganter?”
“Iya ya, kok aku lupa yaa? Yaudah deh, kamu yang sabar aja, cewek itu ngga Cuma satu kok, ngga Cuma dia doang”
“Iyaa By, makasih” jawab kusambil mengusap air mataku
“Iya sama-sama”
Sulit menjalani hari tanpanya lagi, walaupun kita hanya sebatas gebetan. Aku berharap suatu saatnanti, Tuhan mempertemukan kita dan Tuhan izinkan kita bersama. Sebelumnya, aku selalu berdo’a dalam setiap sholatku ”Ya Allah, jikalau dia jodohku maka dekatkanlah tapi jikalau dia bukan jodohku maka jodohkanlah aku dengan dia. Amiiiin”
~TAMAT~ CREATED : @faizzaall

Tidak ada komentar:

Posting Komentar