Akhir dari Sebuah Penantian
inspirated by : Shinta Naomi JKT48
Pagi ini cerah,
hangat mentari yang bersinar dan sejuk embun di pagi itu membuat semangat untuk
menuntut ilmu di salah satu sekolah di Colomadu semakin bertambah. Kupercepat kayuhanku.
Seusai sekolah, ada ekstrakulikuler basket dan akupun mengikutinya. Masih belum
beranjak dari tempat dudukku. Dari arah belakang terdengar suara yang
memanggillku lembut.
“Radiit, tunggu !”
Aku pun melihat ke
belakang ”Kamu Di, ada apa kok sampe tergesa-gesa?” Tanyaku penasaran
“Emmmm ada yang mau
kenalan sama kamu nih !”
“Tapi Di, udah mau
mulai ekskul basketnya nih”
“Telat dikit kan ngga
papa”
Aku tidak menjawabnya.
Aku bergegas pergi menuju lapangan. Aku simpan kata-kata Ardi tapi aku tidak memikirkannya
disaat aku sedang mengikuti basket.
Hari ini aku sengaja
berangkat pagi sekitar pukul 6. Aku ingin menikmati udara pagi yang sejuk.
Sewaktu istirahat aku ingat kata-kata Ardi kemarin siang. Siapa dia? Anak mana?
Anaknya cantik apa engga? Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di otakku.
Hingga aku tak sadar jika aku sedang melamunkannya.
“Heyhey kamu lagi mikirin
siapa sih?” Tanya Baby yang membuyarkan lamunanku.
“Ha? Aku ngga mikirin
apa-apa tuh?”
“Kok ngelamun sih?
Aaa masih keinget sama kata-kata Ardi kemaren yaa?
“Eh apaan sih,
mentang-mentang pacarnya Ardi trus kalian ngejek gitu, aah ngga asyik”
“Hehe Cuma bercanda
kok”
Tiba-tiba Ardi datang
menemuiku. Entah apalagi yang akan ia sampaikan kembali. Aku sendiri tidak berharap
jika kata-kata itu lagi yang akan ia sampaikan.
“Dit, ikut yuk,
de’e mau ketemu kamu, tuh udah ditunggu di kantin” ajak Ardi
“Aaah ngga ah,
biarin aja dia yg samperin”
“Kok gitu? Yaudah deh
ini kesempatan loh, kok malah kamu sia-siain” ucapan Ardi didengar oleh Nabillah,
yang juga saudara Ardi.
“Eh eh, ada apaan nih?
Keliatannya seru! Ada apasih di, kok ngga bilang-bilang?”
“Gak ada apa-apa.
Udah nanti aku ceritain”
Bel masuk kelas
pun berbunyi, aku segera masuk kelas. Dan aku mengikuti pelajaran yang
berlangsung hingga usai. Pulang sekolah biasanya aku naik sepeda, jarak rumah sedikit
jauh.
“Ciyeee Radit”
goda Nabillah
“Ada apasih?”
tanyaku penasaran.
“Tuh orang yang di
depan gerbang pake tas biru ada corak hitam, itu orang yang mau ketemu kamu.”
“Ha? Siapa dia?
Namanya siapa?”
“Dia Shinta Naomi,
anaknya pendiem banget, dia sahabat karibArdi dan Baby”
Tanpa kata-kata
apapun aku bergegas pulang. Dalam perjalananku, aku memfikirkan semua hal yang
Nabillah katakan tadi. Yah Shinta, aku masih tidak menyangka kenapa dia mau bertemu,
kenapa harus lewat temannya? Ah mungkin dia malu. Yaudahlah.
*Keesokan harinya*
Hari ini mulai muncul
kabar buruk, banyak yang menyangka bahwa aku ini pacarnya Shinta, padahal bukan
sama sekali. Aku kenal sama dia saja baru kemarin. Di sela-sela pelajaran aku gunakan
untuk menulis kata-kata. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta sama Shinta.
“Ahhh, kenal langsung
aja belum kayaknya mustahil deh” kata
itu selalu muncul di benakku.
Saat jam
istirahat, aku selalu melewati kelasnya. Aku selalu melihat tingkah lakunya,
yang terkadang membuatku tersenyum-tersenyum sendiri. Oh mungkin ini kah cinta?
Aku pernah merasakannya tetapi aku tak ingin merasakannya lagi untuk saat ini.
Setelah kita kenal
begitu lama, aku mengenal dia dengan ramah, baik walaupun diantara kita tak pernah
ada satu perkataan. Tiba-tiba semua perasaanku menjelma, berubah entahlah seperti
apa isi otakku. Aku menyukainya, aku menyayanginya. Aku yakin dia begitu,
tetapi aku tidak pernah percaya itu, aku tidak pernah percaya bila ia menyukaiku
juga, aku hanya berharap banyak padanya.
Hari ini ekstra pramuka
sebenarnya, aku samaShinta mau bicara tapi dia tetap tidak mau. Dia tetap tak membuka
kesempatan untuk perasaan kita. Tapi aku masih yakin dia benar-benar mencintaiku.
Sore itu aku hanya pulang dengan semua mimpiku yang telah pupus. Aku tak membawa
secuil harapan lagi untuk rasaku ini.
Malemnya aku menulis
surat cinta khusus untuk Shinta. Aku harap ada sedikit respon darinya, dan respon
itu tidak membuat kupatah hati dan patah semangat. Aku tahu, Tuhan pasti mengerti
disetiap mimpi dan harapanku. Setelah selesai, aku pun memasukkanya ke dalam amplop
berwarna pink karena akutahu ia suka warna pink dan aku pun langsung pergi tidur.
“Radit, ayo bangun,
udah jam setengah lima tuh. Buruan bangun, udah ditunggu ayah tuh buat sholat shubuh
berjamaah” kata Ibuku membangunkanku
Paginya, aku bangun
pukul 04.30 dan langsung mengambil air wudhlu untuk sholat shubuh bersama keluargaku.
Setelah sholat aku pun langsung pergi untuk jogging, sendirian. Pukul 6 tepat aku
sudah pulang dan segera mandi untuk bersiap ke sekolah.
“Radit, sarapan dulu,
nih udah ibu buatin nasi goring kesukaan kamu” kata ibuku
“Iya bu” jawabku sambil
mempersiapkan barang-barang untuksekolah
Lalu, aku langsung
turun untuk sarapan.
“ayah mana bu? Kok
ngga ikut sarapan?” tanyaku
“oooo ayahmu baru aja
pergi ke kantor” jawab ibuku
“Loh kok tumben berangkatnya
pagi sekali?” tanyaku
“Kan ayahmu beserta
staff kantor ada tugas ke Jakarta selama 4 hari” jawab ibuku
Setelah sarapan aku
pun langsung berangkat ke sekolah. Setelah sampai di sekolahan, aku kasih surat
itu langsung ke dia. Aku tak pernah mengira hal buruk apapun akan menimpaku setelah
surat itu kau baca. Tiba-tiba Imma dating mengetuk pintu kelasku ketika kelasku
sedang pelajaran. Dia meminta ijin dahulu, lalu memanggilku untuk menemuinya.
Aku sedikit bingung, langsung saja aku langsung menurut.
“Nih surat dari Shinta”
kata Imma sambil memberikan surat dari Shinta.
“Apa ini? Jawaban suratku
tadi pagi ya?”
“Iyaa, baca aja dulu,
dia bilang minta maaf kalo udah nyakitin perasaan kamu, dia ngga bermaksud
kayak gitu, yaudah baca aja”
“Iyaa makasih yaa udah
nganterin suratnya, aku titip salam sama kissbye buat dia”
Di kelas akupun sudah
tak sabar menanti bel istirahat untuk membuka surat ini. Lama sekali aku menunggu,
dan seketika itu bel istirahat pun berbunyi. Aku langsung membuka dan membaca surat
ini.
Seketika itu pun aku
menangis, air mata ini sudah tidak dapat aku tahan lagi. Tetes demi tetes mulai
membasahi wajahku, lalu ku hapus lagi begitu pun seterusnya.
“Ada apasih Dit?”
Tanya Baby
“Di.. dia.. diaa udah
menjawab semuanya” kataku terbata-bata
“Jawab apa?
Bukannya diantara kalian itu tidak ada apa-apa?
“Dia ngga suka aku
By, aku sih fine tapi kenapa yang nganter suratnya harus Imma? Dulu pas kamu sama
Ardi putus, Imma juga kan yang nganter?”
“Iya ya, kok aku lupa
yaa? Yaudah deh, kamu yang sabar aja, cewek itu ngga Cuma satu kok, ngga Cuma dia
doang”
“Iyaa By, makasih”
jawab kusambil mengusap air mataku
“Iya sama-sama”
Sulit menjalani hari
tanpanya lagi, walaupun kita hanya sebatas gebetan. Aku berharap suatu saatnanti,
Tuhan mempertemukan kita dan Tuhan izinkan kita bersama. Sebelumnya, aku selalu
berdo’a dalam setiap sholatku ”Ya Allah, jikalau dia jodohku maka dekatkanlah tapi
jikalau dia bukan jodohku maka jodohkanlah aku dengan dia. Amiiiin”
~TAMAT~ CREATED : @faizzaall
