Kamis, 23 April 2015

Merpati dan Kelinci (part 5)












Akupun membuka SMS itu, dan isinya…
-SINKA : Malam Ky.. :)
-RIZKY : Malam juga Sin, ada apa malem-malem gini SMS ?
-SINKA : Nggak apa-apa kok, aku cuma mau ngucapin terima kasih buat yang tadi pagi !!
-RIZKY : Oh iya Sin, sama-sama. Aku sekali lagi juga minta maaf ya, buat kejadian tadi pagi.
-SINKA : Iya, nggak apa-apa kok. Eh, kamu lagi ngapain ??
-RIZKY : Aku lagi beres-beres buku pelajaran nih buat besok. Kamu sendiri ?
-SINKA : Nggak lagi ngapa-ngapain nih.. Eh, besok pulang sekolah kamu ada acara nggak ??
-RIZKY : Nggak tau Sin, emang ada apaan ?
-SINKA : Emm.. Kita jalan yuk, mau nggak ??
-RIZKY : Gimana ya.. Emm.. Yaudah deh, besok aku usahain !
-SINKA : Kalau gitu, besok sepulang sekolah aku tunggu kamu ditaman yang biasa kita kunjungi dulu itu ya..
-RIZKY : Iya !
-SINKA : Yaudah kalau gitu, aku tidur dulu ya.. Night Kiky !
-RISKY : Night too !
         Lalu aku kembali merapikan buku-buku pelajaranku. Setelah selesai, akupun segera pergi tidur.  Pagi telah tiba, aku bangun dari tempat tidurku lalu menuju ke kamar mandi untuk mandi pagi. Selesai mandi, kukenakan baju OSIS ku untuk menyambut hari selasa ini. Setelah semua beres, aku lalu meuju ke lantai bawah untuk mengisi perutku yang sudah kosong ini. Seperti biasa aku selalu menyapa adikku dan kedua orang tuaku. Selesai sarapan, aku langsung menuju ke garasi untuk mengambil sepedaku dan segera aku berangkat menuju ke sekolah. Sesampainya di sekolah, aku segera memarkirkan sepedaku dan menuju ke kelas. Saat menuju ke kelas, tepatnya di aula aku melihat ada seorang cewek yang sedang kebingungan mencari sesuatu. Setelah kudekati ternyata itu adalah kak Melody, atau yang biasa di panggil kak Melo. Kakak kelas yang menempati kelas XII IPA 1. Aku bisa kenal sama kak Melo ketika dulu waktu MOS aku di bombing oleh dia. Sejak saat itu aku dan kak Melo mulai akrab.  Dia juga primadona di sekolah ini. Banyak sekali cowok yang naksir sama kak Melo, tapi sayang sekali kak Melo ini sudah punya pacar. Namanya kak Cakka. Dia ini sahabat kecil kak Melo. Aku dulu sempat berfikir, kok bisa ya sahabat berubah jadi cinta ? Aneh tapi nyata. Akupun menghampiri kak Melo.
“ Selamat pagi kak.. “ Sapaku pada kak Melo.
“ Eh, hei.. Pagi juga Ky. “ Balasnya.
“ Kakak lagi ngapain ? Keliatannya kaya’ lagi nyari sesuatu ? “ Tanyaku penasaran.
“ Iya nih, aku lagi nyari liontin aku yang hilang. Tadi barusan jatuh disini. “ Jawab kak Melo sambil masih mencari anting-antingnya yang hilang.
“ Oh.. Mau aku bantuin kak ? “
“ Boleh.. “ Aku dan kak Melo pun dengan teliti mencari liontinnya.
“ Emang berharga banget ya kak liontin nya ? “ Tanyaku lagi.
“ Iya, itu liontin pemberian Cakka soalnya dek.. Entar kalau hilang, akukan jadi nggak enak sama dia nya. “ Tak berselang lama akhirnya kutemukan liontin kak Melo. Liontin ini sangat lucu bentuknya. Tak heran kalau kak Melo menyukainya.
“ Nih kak liontin nya! “ Ucapku sambil kuberikan liontin yang sudah aku temukan.
“ Akhirnya.. Makasih ya dek udah mau ngebantuin kakak nyariin liontin kakak yan hilang. “
“ Iya kak, sama-sama. Yaudah, kalau gitu aku ke kelas dulu ya kak.. Daahhh “ Kataku sembari meninggalkan kak Melo di aula.
“ Iyaa.. Sekali lagi makasih ya… ! “ Balas kak setengah teriak.
            Sesampainya di kelas aku langsung duduk di tempat dudukku. Satu persatu semua siswa masuk kedalam kelas. Ternayata jam pelajaran pertama kosong, guru pembimbing sedang ada urusan. Suasana kelaspun menjadi ricuh, ada yang nyanyi nggak jelas, pada ngerumpi, ada yang pukul-pukul meja, komplitlah. Tapi  tidak denganku, aku hanya memandangi satu orang yang dari pagi hanya duduk diam di kelas, dan orang itu adalah Dhike.
“ Hai Ke.. “ Sapaku membuka percakapan.
“ Eh.. Hai juga.. “ Balasnya sambil tersenyum.
“ Lagi ngapain ? Kok dari tadi ngelamun mulu.. ada apa sih ? “
“ Nggak ada apa-apa kok. “ Jawabnya singkat.
“O iya, kemarin kamu jualan kue ? “ Tanyaku lagi.
“ Ehh.. Emm.. Iya. “ Katanya dengan pelan sambil menundukkan kepalanya.
“ Oh.. Jadi ibu kamu penjual kue ? Atau cuma kamu yang jualan kue ? “ Tanyaku bertubi-tubi. Tapi kali ini Dhike hanya diam dan tidak menjawab pertanyaanku sepatah katapun.
“ Loh, kok diem ?”
“ Kamu mau ngejek aku ya ? “ Kata Dhike yang sepertinya tidak senang dengan pertanyaanku.
“ Enggak, aku nggak ngejek kamu kok. Akukan cuma tanya aja. Bantahku dengan santai.
“ Jika aku beritahu, apa kamu mau janji buat nggak ngasih tau ke semua ini ke siapapun ? “
“ Iya, aku janji.. “ Jawabku meyakinkan Dhike. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang memotong pembicaraan kami.
“ Iya, kita juga janji kok!! “ Dengan reflek aku dan Dhike langsung menoleh ke belakang. Ternyata dibelakang kami sudah ada beberapa temanku. Tak lain dan tak bukan adalah Adit, Nikko, Noella, Daito, Yupi dan Ikha.
“ Lah, kalian ngapain di sini ?? “ Tanyaku kaget dengan keberadaan mereka.
“ Dengerin orang cerita lah.. “ Sahut Noella.
“ Eh iya, kita belum kenalan. Aku Noella biasa dipanggil wewel “ Tambahnya sambil mengulurkan tangannya.
“ Aku Dhike. “ Balas Dhike dengan nada pelan. Lalu mereka semua berkenalan satu persatu.
“ Eh, tadi kamu mau cerita apa ? “ Tanya Yupi penasaran.
“ Iya, kamu mau ceriata apa ? Kita nggak bakal kasih tahu siapa-siapa kok. “ Tambah Ikha.
“ Iya Ke, kamu kan sekarang juga udah jadi temen kita. Jadi kamu nggak usah khawatir !“ Ucap Adit. Akhirnya Dhike menceritakan semuanya. Kalau sebenarnya dia anak penjual kue. Ibunya setiap hari selalu menjual kuenya di pasar, sedangkan Dhike akan membantu ibunya ketika ia sudah pulang sekolah. Dia juga berkata kalau dia ini anak tunggal, sedangkan ayahnya sudah meninggal gara-gara penyakit jantung. Jadi sekarang dia hanya tinggal berdua bersama ibunya. Dhike merahasiakan ini semua karna ia takut kalau taman-tamannya tahu, ia akan di ejek habis-habisan. Seperti yang dialaminya sewaktu sebelum bersekolah disini. Merekapun paham dengan apa yang di ceritakan oleh Dhike. Lalu merekapun membuat kesepakatan. Mereka akan membantu Dhike sepulang sekolah untuk berjualan kue setiap hari. Awalnya Dhike menolak, karna Dhike tidak ingin merepotkan teman-temannya. Tapi justru teman-temannya yang memaksa Dhike agar mereka boleh membantunya. Lalu merekapun membuat jadwal untuk mengatur pembagian tugas. Hari senin yang membantu Dhike adalah Noella dan Nikko, hari selasa yang membantu adalah Rizky, hari rabu Ikha, hari kamis Yupi, hari jumat Daito, dan untuk hari sabtunya adalah si Adit. Akhirnya mereka menyepakati jadwal itu. Tak terasa waktu begitu cepat, dan bell menandakan sekolah telah usai pun berbunyi. Sesuai jadwal, karna hari ini adalah hari selasa maka yang membantu Dhike berjualan adalah Rizky. Sebelum pulang, Dhike memberikan alamat rumahnya pada Rizky. Lalu mereka pulang kerumah mereka masing-masing. Sesampainya di rumah, aku segera ganti pakaian dan langsung menuju ke rumah Dhike menggunakan sepedaku. Saat di tengah jalan aku bertemu Viny yang sedang menaiki sepedanya.

[BERSAMBUNG]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar